Friday, March 25, 2011

Raja Hitumesing Say

Struktur atau tingkatan Uli dapat uraikan sebagai berikut :
  1. Uli keturunan Pertama yang terdiri dari Uli-uli Soupele,waipaliti,Latin dan Olong masing-masing-masing terdiri dari bebrapa lumatau atau tamaela
  2. Uli keturunan kedua yang merupakan aliansi Uli-uli dari keturunan uli Pertama, menjadi Aman dibawah pimpinan Amanopunyo
  3. Uli keturunan ketiga yaitu Aliansi keturunan kedua dengan lumatau Tomu,Hunut dan Mosapal, pimpinannya kolektif terdiri dari Amanopunyo dan pemimpin dari ketiga lumatau tersebut. Aliansi dari Uli keturunan ketiga ini disebut juga dengan Uli Halawan yang berpusat di Hitumessing.Menurut Rumphius aliansi keturunan ketiga ini menyebabkan Jumlah Uku ataupun aman, menjadi tujuh, yaitu Soupele,Waipaliti,Lating,Olong,Hunut,Tomu,dan Mosapal olehnyaitu orang-orang yang tinggal di Teritorial itu disebut Hitu yang berarti Tujuh.
  4. Uli Hitu selain itu muncul pula di bagian utara Jazirah Hitu enam keluarga Uli keturunan ketiga yang bersama Uli Halawan mebentuk Uli yang lebih tinggi. Keenam keluarga Uli keturunan ketiga itu adalah Saylessi(Kassalesy),Sawane,Ala atau Leala, Nau binau, Hatunuku,dan Solemata

Di dalam Kapata atau Nyanyian adat (Lannea) masyarakat Hitu disebutkan:
Upu Hata rulu-u,Uli Halawang-e
Upu Hata Latua polanunu, hai Uli Kassalessy

Rele hitu-o, sairele Hitu-o
Sai rele Hitu tumbah nisa nurua sei pare
Upu tania haisessi, hai Uli Hatunuku
Upu Latua aheu latu, hai Uli uli ala
Rele Hitu-o sai rele hitu-o
Sai rele Hitu tumbah nisa nurua hei pare
Upu Monia lolo helu, Uli nau hena helu
Upi wakai surinaya, hai Uli Solemata
(Empat Perdana dengan Uli Halawan
Upu latu Polanunu dari Uli Kasalessy

Marilah beramai-ramai mengangkat Dayung
Menujun Tanah Hitu yang indah penuh cahaya
Seperti sekuntum bunga yang sedang mekar
Upu Tunia hailessy dari Uli Hatunuku
Upu Latua hei latu dari Uli Uli ala

Marilah Beramai-ramai mengangkat Dayung
Menuju Tanah Hitu,yang indah penuh Cahaya
Seperti sekuntum bunga yang sedang mekar
Upu monia lolo helu dari Uli nau hena helu (Nau binau)
Upu wakai surinaya dari Uli solemata
Upu titai wa’Hitu yang membawa titah Tanah Hitu
Upu Latu hei latu dari Uli uli ala
Kapata (Lanea) ini menggambarkan sebuah aliansi yang besar dan luas dan meliputi sebagian besar wilayah Pulau Ambon. Dan juga menggambarkan kekuasaan Raja Hitu yang begitu Luas dan kuat.
Dalam “Hikayat Tanah Hitoe” Alkisah VI,Rijali memang menyebut aliansi ini dengan kekuatan 7 orang punggawa dan 30 orang gelaran” Boleh jadi 30 gelaran itu adalah Amanopunyo yang diantaranya terdapat 7 orang pintar (Punggawa) yang masing-masing melaksanakan tugasnya.
Rhumpius menjelaskan aman-aman dari keenam Uli ketiga yang juga dikenal sebagai Uku adalah sebagai berikut:
  1. Saylessi : Latu atau Mamala dengan Uku Matita (dari Amanopunyo Ululatukau) Polut, Loyen(Ukunya tidak diketahui),Hausihol dengan Uku Tomasiwa, Teleboan,dan Haturessi.Liang dengan Uku Soumual, Haturessi dan Lesiala.
  2. Sawani: Wakal dengan Uku Pasawal dan Uku Hener,Pailisa dan Eli(Uku nya tidak diketahui) Senalo dengan Uku tertutupi dan Uluhelan, Hukunalo yang pada akhirnya terdiri dari Hukunalo dan Pari
  3. Hatunuku: Kaitetu, Nukuhali,Teala,Wawani dan Esen (Ukunya tidak diketahui)
  4. Ala atau Leala; Seith,Hautuna,Lebalehu,Wausela dan Lain (Uku tidak diketahui)
  5. Nau Binau; Nau (Ukunya tidak diketahui, Binau dengan uku Hanalele,. Henalatua,atau Latua dan Henahelu
  6. Solemata ; Tial dengan Ukunya Helau dan Osil, Tulehu dengan Ukunya, Salamu Latim, Makaila dan Asli, Salameten, Maswail dan Wail (ukunya tidak diketahui)
Keenam Uli ketiga beraliansi dengan Uli Halawan mencapai angka 7 yang oleh Rhumpius dikatakan mendapat “Lambang Hitu”sehingga seluruh wilayah itu dinamai Hitu, Wilayah tersebut adalah Uli Halawan berpusat di “TanahHitumessing”Uli Saylessy berpusat di Mamala, Uli Sawane di Wakal, Uli Hatunuku di Kaitetu, Uli Ala di Seith, Uli Nau binau di Negeri Lima,(Kesemuanya berada dalam wilayah Kecamatan Leihitu) Uli Solemata di Tulehu, Tial dan Tenga-tenga (kini berada di wilayah Kecamatan Salahutu) Kedua wilayah kecamatan tersebut diatas, dahulu dikenal Tanah Hitu”

Selain ketujuh Uli tersebut diatas, sumber tradisi Lisan menyebut adanya”Uli Yala Yopa Hitu Hua Barkate” di Negeri Ureng yang sesuai namanya berarti menundukan diri kepada Uli Hitu
Kebanyakan Negeri sekarang sudah tidak dapat lagi menceritakan asal mulanya mereka dari Uli tertinggi mana dan kebanyakan negeri di Pulau Ambon tidak mengetahui lagi bahwa Negeri-negeri mereka asal mulanya adalah Uli. Didalam adat sekarang Uli tidak lagi memegang peranan. Persekutuan Uli dihancurkan oleh kompeni (Belanda). Untuk kemudian melemahkan pertahanan Rakyat oleh sebab peperangan terhadap orang-orang belanda dalam abad ke 17 kebanyakan dilakukan oleh persekutuan Uli, terutama Uli Hitu. Uli-uli di dalam hubungan sosial dengan kesatuan yang terdekat yang merupakan suatu kekuatan yang berbahaya untuk Kompeni (Belanda)


PemerintahanUpu Hata
Melalui nyanyian adat atau Kapata, masyarakat Hitu melukiskan pembentukan Upu Hata sebagai berikut :

Awalo ijadih lette Elia Paunusa-a
Malettei ijadi-I Hitua upu Hata-a

Upu Pelua tanah Hitu, hei eni hasamette
Upu Tomua totohatu, hai eni halupau

Upu wanea Nusapati, hai eni kasumba muda
Upu wailo Patti Tupa, hai eni malakoni

Rele hitu-o sai relle hitu-o
Sai rele hitu tumbah, nisa nurua sei pare

Upu pelua tanah hitu, pelubeni nusa Hitu
Lette kollo pamamesse, hai eni hitumessing

(Awal kejadianyya diatas bukit Elai Paunusa disitulah terbentuklah Empat Perdana Hitu yaitu :

Upu Peluah Taneh Hitu dengan lambang berwarna Hitam Pekat
Upu Tomou Totohatu dengan lambang berwarna Kuning Muda
Upu Wanea Nusatapi dengan lambang berwarna Merah Muda
Upu Wailo Pattiupa dengan lambang berwarna Kuning Muda

Marilah beramai-ramai mengangkat dayung
Menuju tanah Hitu yang indah penuh cahaya
Seperti sekuntum bunga yang sedang mekar.

Nyanian adat ( kapata ) diatas menggambarkan terjadinya gabungan diantara Empat Perdana yang membentuk keturunan kedua menjadi aman, hena atau Uli II, sehingga pemimpin masing-masing memperoleh lambang-lambang sebagai berikut :
  • Pati Selan Binaur atau Zamanjadi mendapat lambang Totohatu dengan warna kebesarannya Kuning Muda. Lambang Totohatu diberikan kepadanya untuk menggambarkan sulitnya mengatasi ataupun melintasi batu karang di Paunusa untuk sampai atau mencapai pantai. Perdana Mulai mendapat lambang Tanihitumessen karena tak terkalahkan dalam pertempuran melawan Zamajadi sehingga tanpa halangan dapat berdomisili di Hitu warna kebesarannya Hitam.
  • Perdana Jamilu mendapat lambang Nusatapi lantaran berhasil mendamaikan Zamanjadi dan Mulai. Pada saat mereka berperang mermperebutkan kekuasaan atas wilayah Hitu. Warna kebesarannya Merah Muda.
  • Kiai Pati atau Pati Putih mendapat lambang Pati Tuban, karena pernah ke Jawa ( Tuban ) untuk menuntut agama Islam warna kebesarannya Biru Muda.
Rijali dalam alkisah V menjelaskan tentang pemerintahan Upu Hata ( Empat Perdanan ) sebagai berikut :
Alkisah peri mengatakan tatkala Empat Perdana mufakat itu menjdi suatu negeri dan ke empat kampung serta di pindahkan nama ke empat itu. Adapun Zamanjadi di pindahkan. Totohatu namanya dan Perdana Mulai di pindahkan Tanehitumessen namanya dan Perdana Jamilu di pindahkan Nusatapi namanya dan Perdana Kiai Pati di pindahakn Pati Tuban namanya. Itulah dimansyhur nama ke empat itu dalam tanah Hitu dan berjadi-jadian serta berputusan, barang suatu pekerjaan dalam tanah Hitu, maka mufakatlah ke empatnya, lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keEmpat Perdana itu. Iutulah seperti emas tiada dengan sepenuhnya lagi. Adapun keEmpat Perdana itu jikalau di namai bendaharapun benar juga dan dinaikan Kerajaan pun patut juga daripada bangsanya datang itu. Karena ia itu tiada di besarkan dan tiada di hinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan, melainkan melakukan kehendaknya. Itulah kenyataan empat bangsanya itu.

Selanjutnya dalam alkisah VI dijelaskan,
Alkisah peri mengatakan daripada pihak rakyatnya 30 gelaran, dan daripada 30 gelaran itu tujuh punggawanya yang besar ialah mengerjakan suatu pekerjaan daripada keEmpat Perdana, lain daripada itu tidak dimasukan, sehingga ta’aluk namanya. Apabila pada suatu pekerjaan maka keEmpat Perdana mufakat dulu, telah sudah mufkat, maka dimasukan tiga kaum dahulu.
Kemudian daripada tiga itu, maka dimasukan tujuh punggawanya serta 30 gelarannya. Itulah diadatkan Zaman datang kepada Zaman turun-temurun tiada berubah lagi. Itulah kesudahannya.

Informasi Rijali di atas dapat diketahui bahwa, walaupun masih dalam bentuk poermulaan akibat interfensi Portugis mapun Belanda di Hitu telah berdiri sebuah Kerajaan dengan sistem pemerintahan “ Empat Perdana “ Kerajaan ini di perkirakan berdiri pada tahun 1470-an atau penghujung abad XV.
Hitu diperintah oleh suatu badan yang disebut “ Empat Perdana “ ( Upu Hata ) yaitu Empat pemimpin penting di Hitu. KeEmpat Perdana ini mempunyai gelar yang dipakai selama mereka memegang jabatan itu.
1. Totohatu
2. Tanihitumessen
3. Nusatapi
4. Pati Tuban
Pemerintahan sehari-hari di koordinir oleh tujuh orang punggawa yang masing-masing berkedudukan di suatu uli di Hitu yaitu orang pintar dari Uli Halawan, Saylessi, Sawani, Hatunuku, Ala atau Laela, Nau Binau dan Solemata.
Punggawa-punggawa itu mempunyai pembantu-pembantu ( Amanopunyo ) atau pemimpin aman yang disebut gelaran sebanyak 30 orang yang masing-masing di ambil dari setiap uli, selain uli Halawan sebanyak
lima orang. Selain itu terdapat kepala atau pemimpin-pemimpin uku yang disebut Tamataela atau Tamaela.
Keputusan yang menyagkut seluruh Hitu dibuat oleh para Perdana.
Ada seorang yang bergelar Raja yang biasanya menjidi penengahnya dalam perundingan-perundingan yang di adakan oleh para Perdana.

Rijali melalui alkisah X memperkenalkan jabatan raja ini dengan gelar “ Latu Sitania “ yang berarti “ Raja Tanya” dan menurut Manusama raja tersebut “Bertugas” memberi undangan ( audensi ) untuk seluruh negeri. Raja Hitu pertama menurut Rumphius adalah satu putra mahkota dari Tuban dari Lumatau Kiai Tuli.
Untuk urusan perdagangan terdapat seorang yang bergelar kapitan Hitu.
Menurut Richard Z. Leirissa jabatan itu adalah ciptaan Portugis untuk melancarkan kontak dagangnya dengan kerajaan Hitu. Yang menjadi kapitan Hitu pertama adalah Perdana Nusatapi sedangkan kapitan Hitu yang terakhir yang dijumpai oleh orang-orang Belanda pada tahun 1601 adalah Tepil yang memegang jabatan itu sampai tahun 1633. Setelah itu terjadi pemberontakan rakyat Hitu melawan Belanda sampai dibubarkannya pemerintahan Empat Perdana Hitu oleh Gubernur Demmer pada tahun 1646. Tepil juga adalah Perdana terakhir dari Lumatau Latim.
Selain Kapitan terdapat pula jabatan Qadhi dan Hukom setelah pemerintahan Hitu membangun Mesjid Tujuh Pangakat maka diangkatlah Maulana Ibn Ibrahim dari keluarga Perdana Tanahitumessen sebagai Qadhi. Sedangkan jabatan Hukom diserahakan kepada Abu Bakar Nasedeki dari keluarga Perdana Nusatapi.
Tentang kapan terjadinya aliansi antara Empat Perdana untuk mendirikan Kerajaan Hitu kurang begitu diketahui dengan pasti.
Rijali dalam Alkisah VIII menyebutkan adanya kesepakatan dari “Empat Perdana” untuk mengirim Patituban Belajar Agama ke Jawa. Di Jawa (Giri-Gresik) Patituban bertemu dengan Sultan Ternate Zainal Abidin yang berkuasa atau menjadi Sultan Ternate pada Thn 1486-1500 Masehi. Dan kepergian Sultan Ternate tersebut sebelum memangku Jabatan sebagai Sultan. Ini berarti setidaknya pada permulaan abad ke XV Kerajaan Islam Hitu telah mengambil Peran Aktif dalam berbagai Bidang dengan daerah-daerah lain, termasuk jawa. Informasi lain juga diperoleh dari Tim Penerbit Profil Propinsi republik indonesia yang menyebutkan bahwa antara tahun 1300 sampai thn 1400 Masehi Hitu telah menjadi salah satu pusat penyebarab Agama Islam di Maluku. Informasi ini bisa dijadikan alasan untuk mengatakan adanya kemungkinan hadirnya Kerajaan Hitu pada awal abad XV sehingga ketika bangsa Portugis tiba di Hitu dijumpai sebuah Pemerintahan yang maju dalam Bidang Ekonomi maupun Perdagangan.
Perjalanan selanjutnya dari Pemerintahan “Empat Perdana”(UpuHata) terhambat akibat peperangan yang dilakukan untuk melawan Portugis maupun Belanda.Puncaknya Ditandai dengan Jutuhnya benteng Kapahaha pada tgl 25 juli 1646. Gubernur Hindia Belanda di Ambon, Gerard Demmer bertindak secara Radikal dengan cara melenyapkan fungsi dari Keempat Perdana untuk selama-lamanya. Uli-uli yang ada dicerai beraikan dan saat itu tidak dikenal lagi masyarakat Geneolog, tapi hanya masyarakat Teritorial, Uli-uli keturunan keempat Perdana hitu dihapuskan keseluruhannya dan seluruh kegiatan dari Empat Perdana (UpuHata) dilarang. Beberapa keturunan Uli ketiga menjadi Negeri. Sedangkan yang lainnya dibubarkan, dimana Aman, Soa atau negeri yang berdiri sendiri terjadi Negeri yang baru. Kepala dari Negeri-negeri ini tidak boleh ikut campur lagi dengan Aman yang sebelumnya adalah Uli-uli keturunan ketiga. Semua Latu menjadi Kepala Negeri.

Beberapa dari Amanopunyo juga menjadi kepala Negeri. Sedangkan Kepala-kepala Soa yang lain dikembalikan sehingga disejajarkan dengan Tamaela yang sekarang menjadi Kepala Soa. Sebaluknya Uku-Uku kehilangan posisi sebagai Tamaela/kepala Soa di Negeri-negri yang baru, sejak itu Raja Hitu yang memerintah Tomu menjadi Kepala dari Negeri Hitulama, bersama dengan Kepala dari Keturunan Perdana Tanihitumesseng, sehingga bagian dari Negeri itu disebut Negeri Hitumessing. I.Q. Namulaita menyebut tindakan Demmer ini sebagai Proses Penghancuran Pemerintahan desa atau Dorpsrepublieken yang telah berurat berakar dalam masyarakat Hitu. Tindakan ini berakibat terciptanya suatu kondisi “the missing link” yang memutuskan mata rantai hubungan geneologi masyarakat Hitu yang berakibat putusnya nilai-nilai Historis yang semestinya terus terpelihara sebagai bagian dari upaya melestarikan Kebesaran dan Kemegahan Kerajaan Hitu, Khususnya Pemerintahan “Empat Perdana”(UpuHata)………


No comments:

Post a Comment

Post a Comment